WAYANG - WAYANG

Kebo Danu (Kerbau Andanu)

Kerbau Andanu adalah milik Bathari Durga, raja makhluk siluman yang bertahta di Kahyangan Setragandamayit. Sedang penggembalanya adalah Dadungawuk, yang merupakan raksasa kerdil anak buah Bathari Durga. Selama bertugas menggembalakan kerbau, Dadungawuk tinggal di hutan Krendayana.

Kebo Danu

Joli Jempana

Sepedha 

Jaran Sendhalan 

Kidang

Merupakan tandu untuk mengangkat orang penting, biasanya tandu berlapis emas. Joli jempana juga dalam kasus tertentu berupa kereja yang ditarik 2 ekor kuda.

Wayang yang berwujud kendaraan Sepeda. Biasa digunakan dalam pewayangan dengan cerita modern sebagai atribut tambahan.

Wayang berwujud hewan kuda/jaran. Biasa digunakan dalam kisah wayang kulit gaya Yogyakarta.

Wayang berwujud hewan kidang/kijang. Dalam pewayangan kidang/kijang pernah dikisahkan ketika Sang Parasara merubah penghuni hutan Mandala dijadikan balatentara Gajahoya.

Garuda

Gajah Situbanda

Wedhus

Celeng

Wayang berwujud  hewan burung Garuda. Dalam kisah pewayangan Burung Garuda sering menjadi bagian, diantranya Garuda Sempati (Putra Resi Briswawa), Garuda Jatayu (Putra Briswawa),  Garuda Harna (Putra Resi Briswawa), Garuda Brihawan (Putra Resi Briswawa). Mereka adalah keturunan langsung dari Garuda Bgiawan/Arumi/Suwarna dengan Dewi Bragmanisri. 

Wayang berwujud hewan Gajah. Gajah Situbondo sendri adalah Gajah Sakti yang memiliki nama lain Airawata.

Pada cerita Pewayangan di cerita Hanoman, Hanoman memohon Gajah Situbanda bersedia jadi Umpak/Tiang utama bendungan /tambak yang membentang sepanjang selat cylon/srilanka. Agar jembatan batu itu tidak ambruk ketika pasukan kera Pancawati(Sebutan untuk bala tentara wanara kerajaan Kiskenda yang dipimpin Sugriwa).

Wayang berwujud hewan wedhus/kambing.

Wayang berwujud Celeng/Celengdemalung/Babi Hutan. Dalam pewayangan Celeng/Celengdemalung/Babi Hutan pernah dikisahkan ketika Sang Parasara merubah penghuni hutan Mandala dijadikan balatentara Gajahoya.

Kereta Perang

Jerangkong

Lelepah

Setanan

Wayang berwujud kereta perang. Kereta perang biasa digunakan dalam pewayangan, contohnya dalam perang Baratayuda.

Wayang berwujud Jerangkong/Tengkorak Manusia. Dalam kisah memedi/hantu jawa Jerangkong akan menampakkan ke anak cucu, dia akan menakut-nakuti  si pembunuh dan keluarga dari si pembunuh.

Wayang berwujud setan raksasa. Konon katanya Lelepah suka memakan daging yang belum matang, jika ia sampai bertemu manusia ia akan memakannya hidup-hidup. Cerita setan lelapah dahulu sangat populer di masyarakat jawa.

Wayang yang berwujud setan, ia merupakan makhluk yang tidak tercipta dengan sempurna. Dalam pewayangan ia tidak dikategorikan dalam sebangsa Jin/Gendruwo, tapi juga bukan manusia ataupun bangsa raksasa.

Setanan menghuni dunia hitam, dan dilindung oleh Batari Durga. Setanan banyak menghuni di kawasan hutan Wanamarta sebelum dibuka menjadi wilayah negri Amarta. Sebagian besar menghuni wilayah hutan Bajubarat dan daerah antara ada dan tiada wilayah kekuasaan Durga bernama Setragandamayit.

Setanan

Setanan

Tikus

Cangik

Wayang yang berwujud setan, ia merupakan makhluk yang tidak tercipta dengan sempurna. Dalam pewayangan ia tidak dikategorikan dalam sebangsa Jin/Gendruwo, tapi juga bukan manusia ataupun bangsa raksasa.

Setanan menghuni dunia hitam, dan dilindung oleh Batari Durga. Setanan banyak menghuni di kawasan hutan Wanamarta sebelum dibuka menjadi wilayah negri Amarta. Sebagian besar menghuni wilayah hutan Bajubarat dan daerah antara ada dan tiada wilayah kekuasaan Durga bernama Setragandamayit.

Wayang yang berwujud setan, ia merupakan makhluk yang tidak tercipta dengan sempurna. Dalam pewayangan ia tidak dikategorikan dalam sebangsa Jin/Gendruwo, tapi juga bukan manusia ataupun bangsa raksasa.

Setanan menghuni dunia hitam, dan dilindung oleh Batari Durga. Setanan banyak menghuni di kawasan hutan Wanamarta sebelum dibuka menjadi wilayah negri Amarta. Sebagian besar menghuni wilayah hutan Bajubarat dan daerah antara ada dan tiada wilayah kekuasaan Durga bernama Setragandamayit.

Wayang yang berwujud hewan tikus dalam kisah pewayangan.

Cangik atau Cangéh adalah tokoh pewayangan Jawa, yang diceritakan sebagai seorang pelayan wanita pelawak kesayangan para penonton biasanya mengiringi kehadiran Sumbadra atau putri kelas atas lainnya.

Cangik memiliki perawakannya kurus, dadanya mengerut, dan penampilannya aneh, dia sangat mudah tersipu-sipu dan genit, dengan sisir yang selalu ia bawa sebagai buktinya. Suaranya tinggi, melengking dan seperti bersiul, karena dia tidak mempunyai gigi. 

Limbuk

Welakas

Begawan Budawilucana

Begawan Abiyasa

Limbuk adalah tokoh pewayangan Jawa. Ia diceritakan sebagai anak perempuan Cangik, ia juga seorang abdi perempuan yang konyol. Meskipun penampilannya sangat berbeda dengan ibunya, dia mempunyai rasa keyakinan yang sama akan daya tariknya yang tinggi. Dia juga membawa sebuah sisir ke mana-mana. Suaranya keras, rendah, dan menyentuh secara janggal.

Welakas atau Ki Jagal Welakas merupakan juru masak Kerajaan Wirata. Pada saat Werkudara/Bima/Abilawa menyamar sebagai penyembelih hewan ternak ikut bersawa Ki Jagal Welakas.

Abiyasa atau Byasa adalah salah satu tokoh yang muncul dalam wiracarita Mahabharata. Ia adalah putera Bagawan Palasara dan Dewi Satyawati. Dia adalah kakek dari para Pandawa dan Korawa. Dia memiliki watak yang bijaksana,adil dan penuh rasa kasih sayang.

Cantrik

Jayadrata

Begawan Budawilucana

Begawan Abiasa

Cantrik adalah sebutan untuk murid dari seorang pendeta/begawan. Dalam kisah pertapaan Andongsekar ada seorang Cantrik bernama Janaloka.

Jayadrata merupakan anak angkat Resi Sempani. Ia memiliki kekuatan setara dengan Bima karena sesungguhnya tercipta dari bungkus Bima yang terlahir dalam bentuk telur yang dipecahkan oleh Gajah Sena. Berkat kecerdikan Sengkuni, ia bergabung dengan Kurawa dan diberi kedudukan tinggi, bahkan dinikahkan dengan Dewi Dursilawati yang merupakan bungsu Kurawa.

Jayadrata merupakan anak angkat Resi Sempani. Ia memiliki kekuatan setara dengan Bima karena sesungguhnya tercipta dari bungkus Bima yang terlahir dalam bentuk telur yang dipecahkan oleh Gajah Sena. Berkat kecerdikan Sengkuni, ia bergabung dengan Kurawa dan diberi kedudukan tinggi, bahkan dinikahkan dengan Dewi Dursilawati yang merupakan bungsu Kurawa.

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit. Ut elit tellus, luctus nec ullamcorper mattis, pulvinar dapibus leo.